Monday, 23 November 2015

Ciampea


Pada hari Kamis, 5 November 2015 kami, angkatan 9 Laskar, berangkat menuju Desa Cibuntu, Kecamatan Ciampea, Bogor untuk menjalankan program Homestay. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan menginap di rumah warga untuk 3 hari 2 malam. Tidak hanya sekedar menumpang alas tidur kami juga turut serta dalam membantu pekerjaan orangtua asuh kami, mulai dari hal sederhana seperti membereskan rumah, menyajikan hidangan, hingga hal yang mungkin tidak biasa kami lakukan di lingkungan rumah kami di perkotaan seperti bercocok tanam di sawah dan ber-gotong royong membantu para warga yang sedang kerja bakti membuat jembatan kecil di desa. Kejadian ini sudah jelas menjadi salah satu kenangan yang paling mengesankan yang bisa kami ceritakan kembali sambil tertawa kelak nanti, selain itu kami juga mendapatkan banyak pelajaran berharga selama proses Homestay ini. Mulai dari pelajaran rohani, adab, dan bahkan ilmu-ilmu sosial seperti budaya dan modernisasi serta perubahan sosial dan budaya.

            Aku dan kelompokku yang terdiri dari Ghina, Aisyah, Najma, dan Aurora tinggal di rumah Pak Anwar dan Teh Dini. Pak Anwar merupakan seorang PNS yang bekerja di luar kota, ia berangkat menggunakan sepeda motor pada pukul 5 pagi dan kembali pukul 8 malam. Otomatis Teh Dini hanya ditemani oleh anaknya Azkiandra atau yang kerap disapa Cuneng hari-harinya, itu juga jika Cuneng tidak main ke rumah kakeknya. Rumah yang kami tempati adalah rumah dengan lokasi yang lumayan jauh dari basecamp, dekat dengan rumah kelompok Faiz, kelompok Diany, dan kelompok Pape. Selain itu rumah kami juga dekat dengan kandang kambing. Saat pertama tiba di lingkungan rumah kami aku langsung memerhatikan sebuah benda kotak yang terbuat dari bambu yang ternyata merupakan tempat para warga biasa mandi. Kagum dan heran rasanya karena aku tidak pernah melihat hal seperti itu sebelumnya, aneh juga rasanya melihat para warga yang sedang mandi hanya dialasi anyaman bambu berbentuk segi empat yang tingginya mungkin hanya 1/3 dari tinggi badanku. Rumah yang kutempati mungkin tidak besar tapi aku dan teman-temanku sudah merasa lebih dari cukup bisa tinggal di rumah tersebut. Rumah itu terbagi menjadi 4 ruangan, yaitu: kamar mandi, dapur, kamar tidur, dan ruang keluarga.

            Karena orangtua asuhku tidak bekerja di sawah maka aku akan menceritakan tentang perubahan sosial dan budaya yang aku perhatikan di sekeliling rumahku. Pertama, dari dalam rumah sendiri, kami tidur di rumah yang sudah beralaskan ubin keramik walaupun beratap bambu dan tidak jarang ada beberapa tikus yang berlarian saat kami sedang merebahkan badan di kasur lipat yang disediakan Teteh di ruang keluarga untuk kami. Disaat hampir semua rumah telah memakai seng disini kami merasakan tidur dengan tikus dan cicak sebagai pemandangan. Kamar mandi, di Ciampea kami beruntung untuk tinggal di rumah yang memiliki kamar mandi di dalamnya, walaupun ada juga pemandian seadanya di luar rumah. Kamar mandi kami berukuran lumayan dan sangat bersih, air mengalir dari sebuah tembok yang dibolongi dan dipasangkan selang pendek, pintu kamar mandi kami kira-kira setinggi 160 cm atau sekitar tinggi badanku lebih sedikit. Kami, kelompokku, juga sering membeli beberapa jajanan di dekat rumah, kapan lagi bisa membeli satu plastik minuman dengan harga Rp 1.000?  Jika di sekolah Rp 5.000 hanya bisa untuk membeli satu gelas es milo, disini kami bisa membeli satu pak es kiko dengan harga Rp 5.000. Senang rasanya berada di sebuah tempat yang belum diambil alih sepenuhnya oleh perusahaan perusahaan besar, di tempat yang tidak memiliki gedung-gedung pencakar langit, senang rasanya mengetahui bahwa kami bisa tertawa bersama dan menikmati hari-hari tanpa memegang gadget sekali-pun. Walaupun secara ekonomis desa ini bisa dibilang tertinggal dan belum merasakan modernisasi sepenuhnya tetapi saya merasa bahagia di desa ini karena warganya yang ramah, hangat, dan sangat bersahabat. Para warga di Desa Ciampea merupakan contoh nyata dari pembuktian bahwa uang bukanlah segalanya, saya merasa sangat beruntung bisa berbagi pengalaman dan bertemu dengan para warga di Desa CiampeaJ