Pada hari Kamis, 5 November 2015
kami, angkatan 9 Laskar, berangkat menuju Desa Cibuntu, Kecamatan Ciampea,
Bogor untuk menjalankan program Homestay.
Kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan menginap di rumah warga untuk 3 hari
2 malam. Tidak hanya sekedar menumpang alas tidur kami juga turut serta dalam
membantu pekerjaan orangtua asuh kami, mulai dari hal sederhana seperti
membereskan rumah, menyajikan hidangan, hingga hal yang mungkin tidak biasa
kami lakukan di lingkungan rumah kami di perkotaan seperti bercocok tanam di
sawah dan ber-gotong royong membantu para warga yang sedang kerja bakti membuat
jembatan kecil di desa. Kejadian ini sudah jelas menjadi salah satu kenangan
yang paling mengesankan yang bisa kami ceritakan kembali sambil tertawa kelak
nanti, selain itu kami juga mendapatkan banyak pelajaran berharga selama proses
Homestay ini. Mulai dari pelajaran
rohani, adab, dan bahkan ilmu-ilmu sosial seperti budaya dan modernisasi serta
perubahan sosial dan budaya.
Aku dan
kelompokku yang terdiri dari Ghina, Aisyah, Najma, dan Aurora tinggal di rumah
Pak Anwar dan Teh Dini. Pak Anwar merupakan seorang PNS yang bekerja di luar
kota, ia berangkat menggunakan sepeda motor pada pukul 5 pagi dan kembali pukul
8 malam. Otomatis Teh Dini hanya ditemani oleh anaknya Azkiandra atau yang
kerap disapa Cuneng hari-harinya, itu juga jika Cuneng tidak main ke rumah
kakeknya. Rumah yang kami tempati adalah rumah dengan lokasi yang lumayan jauh
dari basecamp, dekat dengan rumah kelompok Faiz, kelompok Diany, dan kelompok
Pape. Selain itu rumah kami juga dekat dengan kandang kambing. Saat pertama
tiba di lingkungan rumah kami aku langsung memerhatikan sebuah benda kotak yang
terbuat dari bambu yang ternyata merupakan tempat para warga biasa mandi. Kagum
dan heran rasanya karena aku tidak pernah melihat hal seperti itu sebelumnya,
aneh juga rasanya melihat para warga yang sedang mandi hanya dialasi anyaman
bambu berbentuk segi empat yang tingginya mungkin hanya 1/3 dari tinggi
badanku. Rumah yang kutempati mungkin tidak besar tapi aku dan teman-temanku
sudah merasa lebih dari cukup bisa tinggal di rumah tersebut. Rumah itu terbagi
menjadi 4 ruangan, yaitu: kamar mandi, dapur, kamar tidur, dan ruang keluarga.
Karena
orangtua asuhku tidak bekerja di sawah maka aku akan menceritakan tentang
perubahan sosial dan budaya yang aku perhatikan di sekeliling rumahku. Pertama,
dari dalam rumah sendiri, kami tidur di rumah yang sudah beralaskan ubin
keramik walaupun beratap bambu dan tidak jarang ada beberapa tikus yang
berlarian saat kami sedang merebahkan badan di kasur lipat yang disediakan
Teteh di ruang keluarga untuk kami. Disaat hampir semua rumah telah memakai seng
disini kami merasakan tidur dengan tikus dan cicak sebagai pemandangan. Kamar mandi,
di Ciampea kami beruntung untuk tinggal di rumah yang memiliki kamar mandi di
dalamnya, walaupun ada juga pemandian seadanya di luar rumah. Kamar mandi kami
berukuran lumayan dan sangat bersih, air mengalir dari sebuah tembok yang
dibolongi dan dipasangkan selang pendek, pintu kamar mandi kami kira-kira
setinggi 160 cm atau sekitar tinggi badanku lebih sedikit. Kami, kelompokku,
juga sering membeli beberapa jajanan di dekat rumah, kapan lagi bisa membeli
satu plastik minuman dengan harga Rp 1.000?
Jika di sekolah Rp 5.000 hanya bisa untuk membeli satu gelas es milo,
disini kami bisa membeli satu pak es kiko dengan harga Rp 5.000. Senang rasanya
berada di sebuah tempat yang belum diambil alih sepenuhnya oleh perusahaan
perusahaan besar, di tempat yang tidak memiliki gedung-gedung pencakar langit,
senang rasanya mengetahui bahwa kami bisa tertawa bersama dan menikmati hari-hari
tanpa memegang gadget sekali-pun.
Walaupun secara ekonomis desa ini bisa dibilang tertinggal dan belum merasakan
modernisasi sepenuhnya tetapi saya merasa bahagia di desa ini karena warganya
yang ramah, hangat, dan sangat bersahabat. Para warga di Desa Ciampea merupakan
contoh nyata dari pembuktian bahwa uang bukanlah segalanya, saya merasa sangat
beruntung bisa berbagi pengalaman dan bertemu dengan para warga di Desa CiampeaJ

















0 comments:
Post a Comment